Kecerdasan CS Akumulasi
proses Pengalaman
Dedik
Dwi Prihatmoko*
(Mahasiswa
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga)
Sebagian
masyarakat berasumsi intelegensi atau
kecerdasan merupakan faktor bawaan dari warisan genetik. Orang tua dengan
tingkat kecerdasan baik akan tertanam pula ke anak-anak mereka dan begitu pun
sebaliknya, orang tua dengan tingkat kecerdasan lemah akan berdampak pada
anak-anak mereka kedepannya. Cukup ngeri mendengar pemaparan ini ketika faktor
genetik yang menjadi patokan dasar
kecerdasan seseorang. Apa jadinya generasi muda ketika ternyata rekam sejarah
kecerdasan orang tua lemah? adakah faktor lain yang berpotensi dalam pembentuk
kecerdasan seseorang?
Sejauh
ini paradikma masyarakat akan penilaian kecerdasan ternyata hanya bermuara pada
kepintaran atau kecerdasan akademis semata. Mereka yang mendapatkan rengking di
kelas, cepat menyelesaikan soal pelajaran, aktif dalam diskusi, sering
mengikuti perlombaan (kompetisi) itulah yang digadang-gadangkan telah memiliki
kecerdasan.
Berbagai
argument terkait kecerdasan bergulir cukup beragam. Namun ada yang menarik dari
Prof. Howard Gardner, ia memaparkan bahwa kecerdaan di artikan sebagai
kemampuan menciptakan nilai tambah dan kemampuan menyelesaikan masalah, baik
bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun alam semesta. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa kecerdasan seseorang lebih dominan di pengaruhi oleh kapasitas adaptasi
sebuah proses kehidupan. Seseorang yang memiliki segudang pengalaman dan ia
mampu melakukan adaptasi maka ialah orang yang memiliki kecerdasan.
Lebih
dari itu, Gardner menegaskan, setiap manusia pasti akan memperoleh kenikmatan
yang cukup besar dari Sang Pencipta berupa Kecerdasan Majemuk (Multiple Intellegensi), mencakup;
kecerdasan logis matematis (suka hal-hal berkaitan dengan ketepatan dan
berfikir abstrak dan terstruktur), kecerdasan linguistik (bidang bahasa),
kecerdasan musik (sensitive terhadap mood
dan emosi, menyukai dan mengerti musik), kecerdasan interpersonal (mudah
bergaul dan pintar berkomunikasi), kecerdasan intrapersonal (mampu memotivasi
diri), kecerdasan kinestetik (kemampuan pengendalian fisik dan suka akan
pekerjaan yang berkaitan dengan gerak), naturalis (cinta akan kenampakan alam)
dan kecerdasan visual-spasial (suka berfikir melalui gambar, bagan atau
grafik).
Itulah
sebabnya, Gardner memberikan penegasan terhadap generasi muda untuk selalu
meningkatkan kualitas diri dengan cara mengenali kecerdasan diri. Kita harus
tau bahwa takaran sebuah kecerdasan antara seseorang tidak sama (berbeda) bahkan
anak kembar sekalipun dalam tingkat kecerdasan ternyata juga tidak sama. Sehingga
strategi dalam mengenali kecerdasan pun perlu dilakukan sesuai dengan jenis kecerdasan
yang dimiliki masing-masing orang.
Sebuah
catatan bagi seorang guru di dalam melakukan penilaian kecerdasan peserta
didik. Kurang tepat ketika dewasa ini strategi pengukuran kecerdasan hanya
dilakukan dengan tes akademik, apa yang akan terjadi ketika di kelas ternyata
justru banyak peserta didik yang memiliki kecerdasan non-akademik. Yang terjadi
kecerdasan mereka tidak nampak dan tidak terfasilitasi hingga timbul kelemahan
kecerdasan ketika telah tiba pada dunia kerja.
Sebuah
analogi, di sebuah kelas seorang guru
berhadapan dengan siswa dari berbagai varian binatang, mulai dari monyet,
angsa, burung belibis, kelinci dan kanguru. Ketika itu guru ingin melakukan tes
kecerdasan, guru meminta seluruh siswanya melakukan gerakan berenang di air
sejauh 100 m, dan apa yang terjadi dari sekian siswa di kelas hanya angsa dan
burung belibis lah yang mampu melakukan gerak renang itu. Sementara monyet,
kelinci, dan kanguru kesulitan dan hampir tenggelam lantaran air bukan habitat
mereka.
Nah
inilah sebuah cerita yang seharusnya di pahami bersama bagi seorang guru bahwa
penilaian kecerdasan siswa tidak bisa disama ratakan. Karena yang akan terjadi
justru sebuah pelemahan kecakapan dan kecerdasan yang dimiliki siswa-siswi
mereka. Mengenali kecerdasan anak dangan melakukan pendekatan, pendampingan,
dan pengembangan berkesinambungan menjadi langkah kongkrit di dalam peningkatan
kualitas diri sisswa kearah yang lebih baik.
Tulisan
ini pernah di muat di Media Online LPM Arena.com (Rabu, 29/07/2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar