Senin, 23 Maret 2015

Anak-anak Hebat dari Desa Turgo

Anak-anak Hebat dari Desa Turgo
Oleh Dedik Dwi Prihatmoko*
Volunter komunitas Jendela Jogjakarta


Berkunjung ke desa turgo dihari minggu mungkin menjadi hal yang kurang mengasikan bagi sebagian orang. Lokasi yang lumayan jauh dari kebisingan kota serta fasilitas alat transportasi umum masyarakat yang masih serba terbatas menjadi katalisator sebagian orang mengurungkan niat untuk sebuah kunjungan, apalagi menjadikan tempat tujuan wisata keluarga. Namun bagi kami para jendelis berkunjung di desa TURGO adalah sesuatu yang menyenangkan, ramahnya masyarakat desa, dinamika dan budaya masyarakat yang masih menjaga kelestarian alam, pegunungan dilereng merapi dengan aneka tumbuhan menjulang tinggi, dan pastinya semangat anak-anak untuk belajar menjadi kenikmatan tersendiri untuk dinikmati.

Hari minggu, 30 maret 2014, saya bersama teman-teman diberikan kesempatan menjadi relawan pengajar di desa turgo. Desa yang masih terjaga keasrian, keindahan dan kesejukan alam tersebut, terdapat anak- anak penerus bangsa dengan berbagai kehebatan yang sungguh luar biasa. Perjuangan menimba ilmu dan kreatifitas mereka patut mendapatkan apresiasi.

Setiap harinya anak-anak desa turgo menempuh berkilo-kilometer untuk menimba ilmu ke sekolah, dengan berjalan kaki dan bersepeda menjadi sebuah pilihan utama sehingga anak-anak mempunyai daya tahan untuk hidup (survival) yang lebih hebat dari anak-anak elit kota. Anak-anak di desa turgo lebih kreatif dalam berimajinasi dan solutif jika dihadapkan dengan sebuah persoalan.

Semangat Belajar

Semangat untuk belajar terpancar dari diri anak-anak. Sesaat setelah menginjakan kaki di area PAUD (tempat bentukan Komunitas Jendela sebagai bascamp anak-anak bermain dan belajar), anak-anak terlihat menunggu kedatangan kami dan  terlihat jelas dari raut wajah mereka yang riang gembira melihat kedatangan kami.

Untuk mencapai desa tergo membutuhkan waktu ± 20 menit dari pusat kota jogja, perjalanan yang lurus dan tidak putus-putus mengiringi perjalan kami. Namun perjuangan kami tidak sebanding dengan sambutan anak-anak dengan berbagai polah-tingkah dan canda-tawa yang mereka pancarkan.

Di desa turgo kami menemui hal-hal yang begitu menginspirasi dalam hidup. Anak-anak yang masih malu-malu dengan kehadiran kami memang masih nampak, namun mereka tidak sungkan untuk bercerita terkait berbagai hal mulai dari sekolahnya, perjalanan mereka sampai di PAUD, tokoh idola, kegiatan mereka dirumah, bahkan cita-cita mereka pun tak luput diungkapkan.

Arum, anak desa turgo yang tinggal di RT 2, anak periang,  murah senyum dan terlihat cukup dewasa yang baru menginjak kelas III SD, di usianya yang masih belia, ia sudah memiliki sebuah cita-cita yang sangat mulia, dia bercerita bahwa di desanya banyak warga yang memelihara ternak seperti kambing dan sapi maka arum memutuskan kelak ingin menjadi dokter hewan agar bisa mengobati ternak warganya,”cita-cita saya ingin jadi dokter hewan biar bisa nyembuhin kambing yang terserang gudik di desa saya mas”, Ungkap arum dengan sangat tegas diiringi dengan senyum kecerian.

Berbeda halnya dengan Duwik, anak kalem, pintar dan santun, yang saat ini duduk di bangku kelas IV SD ini ketika ditanya terkait cita-cita masa depan, dengan nada sedikit malu-malu ia mulai mengungkapkan cita-citanya. Dia berharap kelak bisa menjadi seseorang angkatan yang mampu melindungi masyarakat minimal masyarakat di kampungnya,” cita-cita saya jadi…jadi, tentara biar bisa melindungi desa dari kejahatan”.Ungkap Duwik di perjalanan disela-sela kunjungan silaturahmi di rumah warga.

Sungguh luar biasa semangat dan cita-cita anak-anak desa turgo ini, mereka tidak takut untuk menentukan cita-cita di usia yang cukup belia dengan dipertegas alasan yang masuk nalar. Sehingga pantas ketika mereka dibilang anak-anak luar biasa dan tidak kalah dengan anak-anak kota di bawah sana.

Agenda menarik, asyik dan ceria

Agenda Komunitas Jendela kemarin adalah mendampingi anak membaca buku yang disukai, membantu anak memilihkan buku untuk orang tua dan bersilaturahmi ke rumah warga di desa Turgo. Dalam kegiatan kemarin, saya mendapatkan pengalaman yang cukup berkesan. Sebagai anggota baru di Komunitas Jendela saya diberikan kesempatan untuk langsung berbaur dengan anak-anak dan pergi mengunjungi keluarga mereka dengan mengantar pulang ke rumah anak-anak.

Kegiatan komunitas jendela minggu kemarin pertama diisi dengan ice breaking berbentuk senam ceria sekitar pukul 09.00 wib, dengan bermodal speker dan suara musik yang keluar dari netbook memberi stimulus keceriaan, keramaian dan keberbauran kami mulai terbentuk disana, bahkan anak-anak cukup begitu antusias, dan dapat diambil kesimpulan bahwa berbagi keceriaan dengan anak-anak tidaklah sulit dan mahal.

Selanjutnya untuk membangun dan meningkatkan emosional diantara kami (Anak-anak dan para jendelis), para jendelis membuat permainan Ular naga sekitar pukul 9.30 wib. Dua orang sebagai pihak kubu yang memperebutkan umpan serta yang lain menjadi rentetan naga yang sangat panjang. Dalam permainan ini anak-anak bersama jendelis membangun sebuah ikatan emosional cukup erat, sehingga suasana asik, seru dan menghibur terpancar dari wajah kami, serasa mengulang masa kecil dulu.

Setelah dirasa emosional sudah terbentuk sekitar pukul 10.30 wib, kami mulai ke agenda awal, yakni mendampingi anak belajar membaca, memilihkan buku untuk orang tua dan bersilaturahmi. Dalam agenda ini para jendelis dibagi menjadi empat regu sesuai jumlah Rt yang ada di desa turgo. Program ini adalah untuk memperkenalkan komunitas jendela ke masyarakat, serta mengajak orang tua untuk membantu mendorong anak-anaknya sadar akan pentingnya membaca buku, dengan diimbangi orang tua/wali murid juga membudayakan membaca buku agar nantinya dapat menular ke anak mereka kedepannya.

Saya, Nur, Rina dan Azri mendapatkan jatah untuk berkunjung di RT 2. Di Rt 02 kami mulai mengunjungi rumah Eris (Salah satu anak warga rt2) yang lokasinya tak begitu jauh dari PAUD. Sambutan keluarga yang sangat ramah atas kedatangan kami menambah jiwa spirit dalam diri kami bertambah. Sesuai kesepakatan antara tim jendelis Rt 2 dengan anak-anak kami sepakat memilih rumah Eris sebagai tempat belajar. Di sana kami menyuguhkan berbagai buku bacaan  dan anak-anak mulai memilih buka yang diminati. Dikarenakan anak-anak RT 02 hanya ada 4 anak serta jumlah jendelis untuk Rt 02 juga berjumlah 4 orang, kami memutuskan untuk mengintensifkan sistem belajar anak dengan pendampingan one people by one jendelis.

Setelah dirasa cukup waktu untuk belajar, anak di minta memilihkan buku bacaan untuk orang tuanya, mulai buku tentang peternakan, buku resep makanan sudah disediakan. Anak mulai memilah-milah buku yang dirasa pas untuk orang tua/ wali mereka dan tak lupa kami juga memperkenalkan komunitas jendela kepada wali murid, bahwa komunitas ini bergerak ke dunia pendidikan anak. Ucapan terimakasih dari para warga pun begitu besar menambah semangat dalam jiwa ini tumbuh dan tumbuh berkembang.
Tulisan Ini pernah dimuat di halaman Web Komunitas Jendela Jogja, 04 April 2014

Kamis, 19 Maret 2015

Mahasiswa Petarung

Mahasiswa Petarung
Oleh. Dedik dwi prihatmoko*
- Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga-


Mengingat dan perlu diingat
Mahasiswa petarung adalah yang mau membangun
Ketika luapan asa menyala dengan seribu tanda tanya ?
Mereka ada dan berdiri di garda utama

Diam…
Diam bukan berarti terdiam
Lantaran diam guna menyusun strategi perang
Memang pejuang reformasi tinggal sebuah kenangan
Tetapi semangat juang mahasiswa tak boleh padam

Entahlah ….
Apakah ini sebuah realita  atau hanya sugesti belaka
Yang jelas kau ada bukan untuk bertapa mencari moksa
Dengan berdiam menjauh dari gemuruh hiruk pikuk aktifitas dunia
Yang mengarah pada lunturnnya eksistensi   manusia

Untuk mencipta memang tak semudah bualan muda meluapkan rasa cinta
Tak seringan balon dor yang menelan luapan gas-gas udara, bahkan
Tak se-heroik Iron-Man menumpas monster di kota
Namun aksi nyata adalah poin utama demi menjawab tantangan  masa

Edisi mahasiswa (20/03/2015)







Senin, 16 Maret 2015

Rizal Damanik: Tantangan Indonesia


Rizal Damanik: Tantangan Indonesia
Menghadapi MEA

Oleh Dedik Dwi Pihatmoko*
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga

Negara-negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) nantinnya akan mengarah kepada konsep liberalisasi. Bentuk kerjasama yang akan terjadi bukan lagi saling mengisi atau saling memperkuat tetapi saling memperebutkan”. Hal itu disampaikan Muhammad Rizal Damanik, Ketua Perhimpunan Nelayan Indonesia dalam seminar development for welfare movement di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (21/11).

Lebih lanjut Rizal mengungkapkan contoh nyata dari MEA. “Contoh kongkritnya adalah kalau kita punya beras kita jual ke Eropa mungkin orang Eropa hanya akan mengambil sedikit beras dari negara Indonesia. Karena pola konsumsi mereka sangat beda, yakni gandum sebagai konsumsi utama mereka. Maka sudah bisa dipastikan cadangan beras kita aman.”

Namun ketika membahas negara Asean yang berkecenderungan flat (relative sama) baik dalam bentuk pola keseharian, pola tanam, pola tangkapan dan pola produksinya ini, menjadikan situasi yang sangat menghawatirkan. Untuk bangsa-bangsa berkembang yang tergabung di MEA, khususnya Indonesia. Hal ini lantaran teknologi menjadi kunci utama. “Siapa yang menguasai teknologi dia lah yang akan menguasai pasar,” tegas Rizal.

Menurut data indeks daya saing bangsa-bangsa dari 12 parameter yang dihitung. Untuk Indonesia ada tiga indeks yang mengalami penurunan di tahun 2011- 2013. Pertama, infrastruktur. Kedua, kesehatan dan pendidikan. Ketiga adalah tenaga kerja. ”Meskipun dari indeks-indeks yang ada Indonesia banyak mengalami peningkatan, namun ada tiga indeks yang melemah yakni infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan tenaga kerja setahun sebelum memasuki MEA dilaksanakan,” tandasnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menghadapi MEA di taahun depan. Pertama dengan menekan biaya produksi. “Produk pangan yang diproduksi di Indonesia sampai saat ini masih mahal dibandingkan prodak pangan yang dijual bangsa lain. Padahal dalam konsepsi pasar di mana barang itu lebih murah maka dia lah yang akan lebih mudah melakukan ekspansi. Oleh karena itu biaya produksi atau harga produksi harus ditekan seoptimal mungkin.”

Kedua, merubah corak pendidikan. Pendidikan di Indonesia masih cukup rendah ketika dihadapkan dengan bangsa lain. Maka dari itu, perubahan corak pendidikan harus segera diformulasikan guna mendorong skill label yang unggul.

Ketiga, dengan pembangunan konektifitas,” Tol laut perlu segera direalisasikan sehingga interaksi hulu-hilir berjalan optimal dan keempat, perbaikan diplomasi pemeritah. Pemasaran produk pangan kita agak aneh. Contoh kasus ketika produk (ikan) tuna Indonesia terkena tarif tinggi ketika dipasarkan di Eropa. Berbeda halnya ketika Taiwan yang menjualkan tuna tersebut ke-Eropa. Sama-sama tuna Indonesia tetapi tarif selalu tidak sama,” tutur Rizal mengungkapkan kegelisahannya.
Artikel ini pernah dimuat di web LPM Arena 25 November 2014

Media Berimbang rakyat Senang


Media Berimbang rakyat Senang

Oleh Dedik Dwi Prihatmoko*
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga

Perbedaan akan memunculkan sebuah keindahan, dan keindahan akan abadi ketika masyarakatnya sama-sama mau menghargai satu dengan lainnya

Sedikit Mengutip perkataan Pramoedya Ananta Tour, berlakulah bijak sejak dalam pikiran, mungkin kata-kata ini layak untuk kita komparasikan dengan pilpres yang saat ini sedang dalam masa penantian OC (Oficial Count)/ RC (Real Count) KPU yang tinggal menghitung beberapa hari lagi. (6 hari terhitung dari sekarang)

Sebagai masyarakat awam kita sedikit dipusingkan dengan media mainstrim yang kurang menunjukkan jati diri independensi. Para pemilik media saat ini sudah terjun ke dunia pilitik sehingga konsepsi MEDIA sudah berganti siapa yang memiliki Media, dialah yang mengatur jalannya sebuah pemberitaan.

Secara sadar ataupun tidak masyarakat kita sangat gandrung akan sebuah media , sehingga dalam konsepsi Roland Brathes pakar semiotik, ia menjelaskan Semiotik bertujuan untuk mengetahui makna-makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau manifestasi makna tersebut sehingga diketahui bagaimana komunikator mengkonstruksi pesan.

Dalam hal ini media memiliki peranan yang sangat vital, sehingga amat disayangkan ketika pemberitaan yang di wartakan hanya bersifat memihak kesalah satu kandidat pres dan wapres yang mereka usung.

contoh riil, Masyarakat kita yang HOBI menyaksikan siaran Motro TV secara sadar ataupun tidak tentu akan terpengaruh (terhegemoni) untuk condong memilih capres JK, sedangkan Masyarakat kita yang suka menyaksikan siaran TV One, mereka juga pasti anak terhegemoni ke pihak capres Prabowo. Sehingga sebagai masyarakat kita perlu peka menyikapi dan menyiasatinya.

Dalam hal ini Penulis berharap media penyiaran masih bersedia memegang lengkap Sembilan Elemen Jurnalisme Bill Kovach guna menghindari sebuah kebohongan public. Karena dengan terpeliharannya prinsip ini akan timbul sebuah konsep simbiosis mutualisme, Masyarakat puas dengan pemberitaan berimbang begitu pula untuk pemilik media, ia akan di cintai oleh para masyarakat lantaran pemberitaan yang diwartakan tanpa ada keberpihakan. untuk negara yang lebih baik.-


Sabtu, 14 Maret 2015

Surat Untuk Relawan Muda


SURAT UNTUK PARA RELAWAN MUDA
Oleh: Dedik Dwi Prihatmoko*
(Pemerhati Komunitas Jendela Jogja)
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga

Pertama, Kami merasa sangat senang dan bahagia karena masih diberi kesempatan untuk menulis sepotong tulisan ini. Kepada teman-teman relawan muda peduli pendidikan, bernamakan "Komunitas Jendela Jogja" yang saat ini sedang merayakan Ulang tahunnya. Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman relawan muda yang sudah lama mengabdikan diri menjadi relawan pengajar dan telah banyak memberikan pelajaran bermakna dan inspiratif untuk diri kami dan umumnnya pada generasi-generasi muda selanjutnya.

Kami datang ke kota Jogja sudah hampir empat tahun terhitung dari diterimanya kami di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Jogja. Sehingga kami cukup tau akan kebudayaan masyarakat jogja. Jogja adalah kota budaya, kota dengan tata kelola dan ungah-ungguh masyarakat yang cukup tertata menjadikan para pendatang sedikit dimanjakan akan budaya. Orang berbondong-bondong berkunjung ke Jogja  dengan berbagai tujuan, mulai dari wisata, mencari lapangan kerja, berburu makanan, menghabiskan masa tua dan melanjutkan pendidikan. 

Eksotisnya pantai dan budaya kraton selalu menjadi pemandangan menarik untuk di kunjunggi di setiap waktunya. Selain itu kota dengan pertumbuhan gedung-gedung pusat pendidikan yang begitu pesat menambah nilai tambah, sehingga gairah masyarakat luar daerah untuk hijrah ke kota ini cukup besar dan tidak heran ketika banyak wisatawan domestik datang ke Jogja untuk melanjutkan program studinya.

Sebagai kota pelajar, Jogja menjadi salah satu barometer pendidikan yang memiliki daya pikat tersendiri. Perguruan tinggi negeri dan swasta mulai dari kampus berbasic pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, sosial, pertanian, perkebunan, kehutanan, ilmu teknologi dll tersebar luas di kota ini.  Oleh karena itu, tidak heran ketika kompetisi studi pendidikan di sebuah kota dengan sebutan ”Kota Gudeg”  ini cukup tinggi dan menjadi incaran para pelajar di berbagai profinsi.

Berbagai latar belakang budaya, adat istiadat, tradisi, agama, ras, warna kulit, dan ideologi tersaji di kota gudeg. Pluralisme masyarakat pendatang inilah sebagai bentuk keterbukaan kota Jogja terhadap kebudayaan luar. Masyarakat luar jawa seperti NTT, NTB, Papua, Kalimantan, Sulawesi dll,. dengan mudah dapat melanjutkan studi pendidikan di kota ini dengan catatan mereka benar-benar mampu dan mau berkompetisi secara sportif dalam percaturan perguruan tinggi yang sudah dibuat. Semboyan ”Bineka Tunggal Ika” tetap terpatri di masyarakat kota jogja. Biarpun berbeda-beda tetapi tetap satu jua yakni Jogja Istimewa.

Dampak pluralisme yang terdapat di Jogja cukup besar. Tergantung dari mana kita akan membidiknya. Ketika mencari orang dari suku daerah luar jawa, bisa dibilang cukup mudah untuk mencarinya di kota ini. Inilah salah satu bukti dari perbedaan yang membawa kemudahan dan kemudahan inilah yang akan membawa kesatuan. Kesatan negara NKRI.

Di perguruan tinggi Jogja telah banyak mencetak orang-orang hebat di pemerintahan sana. Kamipun berharap kelak bisa menjadi bagian dari orang hebat seperti mereka. Namun setelah kami masuk ke dalam komunitas relawan muda peduli pendidikan bernamakan “Komunitas Jendela” kami melihat orang-orang hebat dari sudut pandang berbeda. Dengan latar belakang  yang berbeda, baik dari sisi; perguruan tinggi, jurusan, keunikan, motivasi dan ideologi mereka ada dengan misi yang sama yaitu mencerdaskan generasi muda. Sungguh luar biasa perjuangan mereka. Mereka hadir mengajak anak-anak untuk gemar membaca dikala orang lain sudah tidak lagi menyuarakan dan mengambil tindakan terkait pentingnya pendidikan usia dini. Usia dimana kecerdasan mereka sedang di pertaruhkan oleh perlakuan-perlakuan di sekelilingnya. Sehingga pola kegiatan Komunitas Jendela Jogja sudah sepantasnya mendapatkan apresiasi dari semua kalangan di negeri ini. 

Kegiatan komunitas jendela cukup luar biasa, dikala sebagian besar orang-orang memanfaatkan waktu liburannya untuk berwisata. Jendelis Jogja tampil beda dan tidak biasa. Hari minggu merupakan hari penting bagi teman-teman Jendela Jogja untuk mencerdaskan anak-anak desa dengan membaca. Berkilo-kilo meter bascamp (tempat binaan) yang harus Jendelis tempuh, Jalanan naik-turun dan tidak putus-putus selalu mereka jalani dan nikmati. Bahkan ada beberapa moment pola kegiatan Jendelis Jogja yang cukup menyentuh hati, kala itu ketika hujan abu melanda wilayah jogja pada april 2014, dimana abu Gunung Merapi keluar cukup tebal dan beberapa media masa menghimbau para warga Jogja untuk berhati-hati lantaran aktivitas Gunung Merapi masih dalam tahap waspada. Ternyata hal itu tak menyulutkan para Jendelis Jogja untuk melakukan rutinitas hari minggu untuk belajar dan bermain dengan anak-anak di desa Turgo – Desa yang berlokasi di lereng kaki Gunung Merapi -- Kesadaran para Jendelis akan pendidikan anak ternyata lebih tinggi dibandingkan hujan abu yang datang pada hari itu. Ketika sebagian besar orang memilih untuk menjauh dari Gunung Merapi namun berbeda dengan Jendelis Jogja yang justru kala itu lebih memilih tetap melakukan kunjungan ke turgo melihat keberadaan anak-anak di sana. Dan benar saja minggu itu yang datang ke tempat pembinaan hanya ada beberapa anak. Ketika ditanya teman-teman yang lain kemana? Mereka menjawab, mereka sudah mengungsi ke daerah lain. Jendelis pun bertanya lagi kepada si anak, kenapa kalian tidak ikut teman-teman lain yang mengungsi ? mereka menjawab, tidak apa-apa kami berani kok. 

Disinilah peran Jendelis, kala itu berusaha memberikan penyadaran kepada anak-anak untuk tanggap bencana dengan melakukan usaha-usaha penyelamatan diri dari bahaya. Dengan penyampaian yang dikemas dengan pola belajar sambil bermain mereka sedikit-demi sedikit telah menyadari tentang pentingnya tanggap bencana. Subhanawllah jiwa merekaa sunguh luar biasa, mereka tetap datang ke tempat pembinaan di tengah-tengah bahaya yang bisa saja terjadi. Kami bangga pada kalian, kalian adalah orang-orang hebat yang telah menginspirasi banyak orang termasuk diri KU secara pribadi  

Semoga amalan kalian selama ini mendapatkan luapan asa yang berlipat ganda dari sang pencipta….amin.-








Minggu, 01 Maret 2015

Gadget Tren Akademisi



Gadget Tren Akademisi
Oleh Dedik Dwi Prihatmoko
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Suanan Kalijaga
g

adget yang saat ini tersebar luas di lapisan masyarakat tak terkecuali di lingkup mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, menimbulkan berbagai problem sosial. Sebagian orang mengunakan Gadget sebagai lifestyle semata, namun beberapa orang mengunakan alat cangih ini sebagai bagian dalam menunjang kegiatan usaha, komunikasi dan mencari informasi.
Menurut Undang- Undang Republik Indonesia no 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang tertuang dalam pasal 4a, 4c  dan 4d.  menyebutkan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik dilaksanakan dengan tujuan untuk: 4a. mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia; 4c. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik; dan 4d. membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab.
Dari peraturan UU-RI tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa gadget memiliki banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari berbagai ficture layanan yang ditawarkan. Dengan adanya gadget menjadikan segala aktifitas seorang mahasiswa lebih dipermudah. Tugas seorang mahasiswa seperti membuat makalah, peper laporan, review buku, artikel, laporan karya ilmiah akan sangat terbantu dengan adanya ficture “ browsing internet” dalam sebuah gadget.
Namun perlu disayangkan ketika masih banyak  mahasiswa- mahasiswi kita kurang mengoptimalkan teknologi canggih ini. Sebagian orang membeli gadget hanya sebagai sarana pemuas hati, ajang gagah-gagahan, gaya hidup (Lifestyle) semata. Situs-situs yang biasa dikunjungi hanyalah Facebook, Game, Tuwiter, tanpa mau menggali informasi yang di butuhkan seyogyannya sebagai seorang mahasiswa (minimal membuka situs informasi sesuai jurusan yang di ambil), bahkan sangat ironis ketika melihat generasi penerus bangsa kita dalam taraf mahasiswa salah dalam penggunaannya yaitu  dengan membuka situs-situs Porno.
Saat ini Gadget tidak hanya sebagai kebutuhan tertier  melainkan sudah naik greet menjadi sebuah kebutuhan sekunder bahkan kebutuhan primer menurut intensitasnya di  masyarakat khususnya di kalangan mahasiswa. Crew Arena  (5-6/01/2014), mengadakan Poling terkait teknologi (Gadget) megunakan sistem sampling  dengan mengambil sampel 135 mahasiswa disetiap fakultas dari populasi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.
Hasil ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh jumlah mahasiswa namun hanya mewakili sebagian kecil dari jumlah mahasiswa seluruhnya, dengan kemungkinan sampling eror sebanyak 25 %. Hasil poling memperoleh data sebagai berikut; Keinginan mahasiswa membeli gadget yang sedang trend, diperoleh data sebanyak 56 % mahasiswa menginginkan membeli gadget sedangkan 44 %nya tidak menginginkan membeli gadget yang sedang trend saat ini. Hasil ini mengindikasikan lebih dari setengah jumlah mahasiswa UIN SUKA akan mengikuti budaya konsumerisme barat.
Fungsi utama dari gadget yang ingin digunakan, diperoleh data sebanyak 42 % memilih digunakan untuk berkomunikasi maupun bersosialita, sebanyak 48 % melilih untuk menunjang fasilitas pembelajaran kuliah dan menunjang pekerjaan mereka, sementara sebanyak 10 % melilih untuk sarana memperluas pergaulan atau sebagai bentuk pelengkap kebutuhan mengikuti tren.
Dalam hal persepsi mahasiswa terhadap kegunaan gadget, 58 % (berargumen bahwa gadget merupakan barang yang penting digunakan oleh mahasiswa, 26 % (penggunaan gadget merupakan barang yang kurang penting untuk digunakan oleh mahasiswa), namun 16 % (menyatakan jika gadget merupakan barang yang sangat penting untuk dimiliki oleh mahasiswa pada masa sekarang).
Namun tingkat korelasi tinggi konsumerisme mahasiswa menurut data yang diperoleh tidak signifikan dengan kepuasan mahasiswa terhadap kepemilikan gadget yang telah mereka punya, sebanyak 62 % (tidak puas terhadap kegunaan gadget maupun bentuk serta tampilan gadget mereka), sementara sebanyak 38 % (puas sehingga kemungkinan untuk membeli gadget yang lebih baru akan dimungkinkan).
Point terakhir terkait jumlah pengeluaran mahasiswa UIN-SUKA untuk membiayai gadget mereka selama sebulan baik pulsa (SMS, Telepon maupun Paket data). Sebanyak 74 % (mahasiswa merogah gocek untuk pembiayaan gadget pada rentang Rp 25.000,00 – 45.000,00), sebanyak 16 % (rentang pembiayaan gadget Rp 45.000,00 – Rp 65.000,00), serta sebanyak 10 % (rentang pembiayaan gadget Rp 65.000,00 – Lebih).
Dari hasil poling Crew Arena dapat di tarik kesimpulan bahwa tingkan kebutuhan mahasiswa terkait Gadget menjadi fenomen kebutuhan penting sebagai penunjang proses pendidikan di kampus. Menurut Yafi, mahasiwa Fakultas ADAB, Jurusan BSA (Bahasa dan Sastra Arab) semester 5, “Gadget sangat penting bagi kalangan mahasiswa, saperti halnya untuk saya pribadi, dengan adanya gadget  saya sangat terbantu dalam pengerjaan tugas-tugas dari dosen. Dengan membuka internet di dalam ficture gadget saya dapat mencari bahan-bahan untuk  menyusun tugas- tugas secara mudah” Ungkapnya.
Hal yang sama diungkapkan, Faiz, Mahasiswa Fakultas ADAB, Jurusan BSA (Bahasa dan Sastra Arab) semester 5 ,” Dengan gadget saya sangat terbantu, semua hal yang belum saya ketahui terkait beberapa mata kuliah yang kiranya belum jelas dapat saya gali lebih dalam melalui internet di dalam ficture Gadget.
“Selain penggalian informasi, gadget mempermudah saya untuk penawaran jasa, karena disela-sela kesibukan kuliah, saya membuka usaha instal Gadget dengan pengiklanan di media online. sehingga gadget sangat membantu saya di banyak hal seperti dalam poin diatas”, imbuhnya.
Hal serupa diungkapkan Ali salah seorang kakak yang mempunyai adik bernama  Arif Hidayat Tullah yang masih berstatus mahasiswa UIN Sunan Kalijaga fakultas Tarbiyah jurusan PAI semester IV,” Kemajuan teknologi yang semakin berkembang sangat perlu di ikuti, karena berbagai informasi yang susah kita cari di lingkungan masyarakat dengan mudah dapat kita akses di dunia maya salah satunya dengan penggunaan gadget, sehingga terkait penggunaan gadget untuk mahasiswa  ataupun untuk adik saya, sangatlah perlu dan menjadi suatu kebutuhan” tegasnya di sela-sela melayani pengunjung di warung makan yang ia dirikan.
Selain dampak positif  tentu prodak (Gadget) juga memiliki beberapa dampak negative.  Ficture yang memberikan kemudahan ada kalanya memberikan kontribusi yang kurang baik. Seseorang yang sudah kecanduan dunia Facebook, twiiter dll, tidak akan mudah untuk meminimalisir penggunaannya apalagi menghentikan layanaan itu, sehingga ketika mahasiswa dihadapkan antara tugas kuliah dengan facebook, twiiter, banyak yang memilih untuk mendahulukan facebook ataupun twiiter di banding tugas kuliah. Bahasa gaulnya “Tugas gak kelar facebook tetap jalan”.
Menurut Arif, mahasiswa Fakultas Dakwah Jurusan BK (Bimbingan konseling ) semester 5, ”Gadget untuk mahasiswa menurut saya kurang begitu penting, karena pemanfaatan yang masih kurang tepat.  Dalam proses perkuliahan yang sedang berlangsung sering saya temui beberapa teman asyik dengan facebook dan jejaring social lainnya bahkan main game, sehingga sangat tidak pas untuk dikatakan gadget sebagai penunjang perkuliahan,Ugkapnya.
Dalam hal ketertarikan prodak Gadget arif menambahkan,“ Biaya pembelian pulsa Gadget yang tidaklah murah, tak menutup kemungkinan pengeluaran mahasiswa perbulannya semakin meningkat (konsumtif), sehingga untuk saat ini saya belum begitu tertarik terhadap produk tersebut”,Tandasnya.
Dari berbagai dampak yang di timbulkan oleh sebuah teknologi baru yang bernama Gadget, tentu menjadi sebuah  kajian yang perlu dikaji untuk kita bersama sehingga sebuah teknologi yang dikata cangih ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan SDM bangsa ini, khususnya di kalangan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.
Terkait gadget yang beredar saat ini, Eva Latipah, Dosen Psikologi Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, mengungkapkan, Gadget pada dasarnya dapat menunjang pendidikan mahasiswa, jika mereka mampu menggunakannya dengan sebaik-baiknya dan seoptimal mungkin. Misalkan untuk mengakses informasi-informasi yang dibutuhkan, seperti mencari jurnal, mencari artikel. Saya-pun sebagai dosen juga sangat terbantu, dengan adanya gadget saya dapat mengakses artikel luar negeri yang saya butuhkan tanpa bersuhah payah, Ungkapnya.
Membagi antara kapan bermain-main dengan gadget dan kapan mengoptimalkan Gadget sebagai fasilitas belajar sescara benar sangat penting untuk mahasiswa, imbuhnya. “Gadget menjadikan seseorang anteng, sehingga akan menjadikan dia sebagai makhluk yang individualis. Untuk anak-anak gadget sebagai sarana bermain sangat wajar namun ketika diposisikan  kepada mahasiswa tentu kurang pas. Mahasiswa sudah tidak masanya untuk bermain-main apalagi bermain di dunia maya. Ketika usia dewasa termasuk mahasiswa saatnya mereka mengambil langkah bagaimana berinteraksi ke dunia social yang lebih luas lagi secara nyata”, tandas beliau ketika di temui di ruang kerjanya.
Secara garis besar, gadget memberikak berbagai fasilitas yang memadai untuk kalangan mahasiswa. Semua gejala social dari Gadget itu kembali lagi  ke individunya, individu (mahasiswa) yang ingin berprestasi akan memposisikan gadget sebagai penggali informasi secara luas bukan sebagai pemuas diri, ajang main-main ataupun sebagai life style semata.
Berita ini pernah dimuat dalam Slilit Arena 2014.