Rabu, 29 Juli 2015

Pendidikan



Kecerdasan CS Akumulasi proses Pengalaman

Dedik Dwi Prihatmoko*
(Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga)

Sebagian masyarakat berasumsi intelegensi atau kecerdasan merupakan faktor bawaan dari warisan genetik. Orang tua dengan tingkat kecerdasan baik akan tertanam pula ke anak-anak mereka dan begitu pun sebaliknya, orang tua dengan tingkat kecerdasan lemah akan berdampak pada anak-anak mereka kedepannya. Cukup ngeri mendengar pemaparan ini ketika faktor genetik  yang menjadi patokan dasar kecerdasan seseorang. Apa jadinya generasi muda ketika ternyata rekam sejarah kecerdasan orang tua lemah? adakah faktor lain yang berpotensi dalam pembentuk kecerdasan seseorang?
Sejauh ini paradikma masyarakat akan penilaian kecerdasan ternyata hanya bermuara pada kepintaran atau kecerdasan akademis semata. Mereka yang mendapatkan rengking di kelas, cepat menyelesaikan soal pelajaran, aktif dalam diskusi, sering mengikuti perlombaan (kompetisi) itulah yang digadang-gadangkan telah memiliki kecerdasan.
Berbagai argument terkait kecerdasan bergulir cukup beragam. Namun ada yang menarik dari Prof. Howard Gardner, ia memaparkan bahwa kecerdaan di artikan sebagai kemampuan menciptakan nilai tambah dan kemampuan menyelesaikan masalah, baik bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun alam semesta. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecerdasan seseorang lebih dominan di pengaruhi oleh kapasitas adaptasi sebuah proses kehidupan. Seseorang yang memiliki segudang pengalaman dan ia mampu melakukan adaptasi maka ialah orang yang memiliki kecerdasan.
Lebih dari itu, Gardner menegaskan, setiap manusia pasti akan memperoleh kenikmatan yang cukup besar dari Sang Pencipta berupa Kecerdasan Majemuk (Multiple Intellegensi), mencakup; kecerdasan logis matematis (suka hal-hal berkaitan dengan ketepatan dan berfikir abstrak dan terstruktur), kecerdasan linguistik (bidang bahasa), kecerdasan musik (sensitive terhadap mood dan emosi, menyukai dan mengerti musik), kecerdasan interpersonal (mudah bergaul dan pintar berkomunikasi), kecerdasan intrapersonal (mampu memotivasi diri), kecerdasan kinestetik (kemampuan pengendalian fisik dan suka akan pekerjaan yang berkaitan dengan gerak), naturalis (cinta akan kenampakan alam) dan kecerdasan visual-spasial (suka berfikir melalui gambar, bagan atau grafik).
Itulah sebabnya, Gardner memberikan penegasan terhadap generasi muda untuk selalu meningkatkan kualitas diri dengan cara mengenali kecerdasan diri. Kita harus tau bahwa takaran sebuah kecerdasan antara seseorang tidak sama (berbeda) bahkan anak kembar sekalipun dalam tingkat kecerdasan ternyata juga tidak sama. Sehingga strategi dalam mengenali kecerdasan pun perlu dilakukan sesuai dengan jenis kecerdasan yang dimiliki masing-masing orang. 
Sebuah catatan bagi seorang guru di dalam melakukan penilaian kecerdasan peserta didik. Kurang tepat ketika dewasa ini strategi pengukuran kecerdasan hanya dilakukan dengan tes akademik, apa yang akan terjadi ketika di kelas ternyata justru banyak peserta didik yang memiliki kecerdasan non-akademik. Yang terjadi kecerdasan mereka tidak nampak dan tidak terfasilitasi hingga timbul kelemahan kecerdasan ketika telah tiba pada dunia kerja.
Sebuah analogi, di sebuah kelas seorang guru berhadapan dengan siswa dari berbagai varian binatang, mulai dari monyet, angsa, burung belibis, kelinci dan kanguru. Ketika itu guru ingin melakukan tes kecerdasan, guru meminta seluruh siswanya melakukan gerakan berenang di air sejauh 100 m, dan apa yang terjadi dari sekian siswa di kelas hanya angsa dan burung belibis lah yang mampu melakukan gerak renang itu. Sementara monyet, kelinci, dan kanguru kesulitan dan hampir tenggelam lantaran air bukan habitat mereka.
Nah inilah sebuah cerita yang seharusnya di pahami bersama bagi seorang guru bahwa penilaian kecerdasan siswa tidak bisa disama ratakan. Karena yang akan terjadi justru sebuah pelemahan kecakapan dan kecerdasan yang dimiliki siswa-siswi mereka. Mengenali kecerdasan anak dangan melakukan pendekatan, pendampingan, dan pengembangan berkesinambungan menjadi langkah kongkrit di dalam peningkatan kualitas diri sisswa kearah yang lebih baik.
Tulisan ini pernah di muat di Media Online LPM Arena.com (Rabu, 29/07/2015)


Senin, 27 Juli 2015

Pengoptimalisasian Lahan Pertanian


Pengoptimalisasian Lahan Pertanian
Dedik Dwi Prihatmoko*
(Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalaijaga) 

Pertanian adalah lumbung terbesar negara kita di dalam konsep agraria. Sebagai negara berkembang, sebuah perbaikan yang dapat mendulang kemajuan penting untuk segera dilalukan, terkhusus dalam hal pertanian nasional. Kita harus percaya bahwa negara ini kelak akan menjadi negara besar, lumbung swasembada pangan.

Namun sebuah keyakinan ini tidak akan ada artinya ketika tidak diimbangi dengan sebuah tindakan. Permasalahan pertanian kita saat ini sangatlah Kompleks. semakin tingginya biaya pengolahan lahan ternyata tidak sebanding dengan pendapatan yang seharusnya mereka dapatkan. Berbagai terobosan pemerintah mulai dari penyuluhan-penyuluhan dan pemunculan berbagai farietas tanaman ungul memang sudah digalakkan.


Namun sebenarnya program capaian utama yang perlu di galakkan bukan itu, akan tetapi program persebaran sistem irigasi yang menjadikan petani mandiri dan pembentukan peraturan represif akan pengalih fungsian lahan pertanian menjadi hunian sesungguhnya yang perlu di tanggappi. 


Dua hal inilah yang saya rasa perlu di perbincangkan ulang. Bagaimana bisa farietas pertanian unggul dapat maksimal ketika pengairan saja tidak optimal. Di daerah manapun pertanian padi sangat membutuhkan pengairan yang cukup tinggi sehingga sebaik apapun jenis farietas padi yang ditanam hasilnya tidak akan sesuai harapan karena unsur pengairan tidak berjalan lancar.


Pada musim kemarau banyak petani yang tidak mengolah lahan pertanian mereka hingga nampak terlihat berpetak-petak sawah mangkrak di posisinya. Menjadikan sistem panen (padi) nasional menjadi rendah. Setiap tahun panen padi hanya terjadi sebanyyak satu atau dua kali panen saja dan mandeg pada waktu musim kemarau tiba. 


Oleh sebab itu sistem irigasi sangatlah dibutuhkant para petani kita saat ini guna pengoptimalisasian waktu tanam padi secara lebih baik lagi. lantaran pada musim kemarau para petani dapat menanam padi. Dan berdampak pada kebutuhan beras dalam negeri dapat segera di tangani dan berdampak lagi pada swasembada beras ke luar negeri.


Point ke dua, lahan pertanian kita dari waktu ke waktu selalu mengalami pengalih fungsian lahan. Banyak gedung berdiri di areal persawahan.  Bagaimana bisa bangsa ini dapat melakukan swasembada padi ketika dari hari ke hari pengalih fuungsian lahan pertanian tidak segera diatasi.


Sudah saatnya pemerintah sebagai pemegang kendali meluncurkan sabda pemerintahnya untuk "stopp" wilayah pertanian untuk pendirian bangunan karena akan berdampak besar pada sulitnya pencapaian misi nasional akan bangsa mandiri dan makmur.



Motivasi Belajar VS Lemahnya Minat Belajar



Motivasi Belajar VS Lemahnya Minat Belajar
Dedik Dwi Prihatmoko*
(Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalaijaga) 
Selama ini guru sebagai orang terdekat terhadap siswa tentu lebih memahami perkembangan mereka dalam lingkungan sekolah. Baik buruk, benar salah pola aktifitas mereka, seorang guru tentu lebih tau dan memahami. Hal ini menjadi point penekanan penting untuk di pahami bersama bahwa peran guru sangat dibutuhkan. Memang tidak mudah kerja seorang guru. Mereka harus melakukan pendekatan-pendekatan yang  mampu mengarahkan dan membentuk perilaku siswa dari yang tadinya buruk menjadi baik dan yang tadinya salah menjadi benar. Namun pertanyaannya adalah seberapa lama proses pendekatan itu terjadi? dan Pendekatan yang seperti apa hingga siswa mau untuk berubah ?
Permasalahan siswa dalam pembelajaran di sekolah sangat beragam mulai dari melemahnya minat belajar, rendahnya perhatian akan materi yang disampaikan, susahnya pengkondisian siswa dalam diskusi, dan seambrek problem keunikan yang muncul dalam diri siswa menjadi sebuah tuntutan dan keharusan bagi guru untuk mampu mensiasatinya. Dalam mengatasi permasalahan diatas hal utama yang dapat dilakukan guru adalah dengan pemberian motivasi belajar bermakna terhadap mereka. 
Telah banyak terjadi kasus siswa mengalami keterlambatan dalam mengikuti pembelajaran namun sebagian guru engan melakukan tindakan. Ketika di klarifikasi, guru melakukan pembelaan, selama ini guru telah melakukan berbagai upaya namun siswa bermasalah yang memang tidak dapat di ajak berubah, pendampingan pun sudah kami lakukan tetapi hasil nya tetap nihil dan seambrek pula pembelaan-pembelaan yang digelontorkan guru demi menjaga image mereka. Padahal seyogyanya seorang  guru berkualitas tidak akan melakukan ratapan terkait problem keunikan yang dilakukan siswa tetapi justru yang dilakukannya adalah penumbuhan motivasi, motivasi bagaimana para siswa mampu menjadi pribadi yang unggul dan  lebih baik dari sebelumnya. 
Dalam perjalannya banyak terjadi guru pintar dalam penguasaan meteri pelajaran tetapi kurang mampu melakukan pengkondisian dan pendekatan. Siswa belum saja siap menerima pembelajaran di paksa untuk tetap mengikuti pembelajaran hingga yang tercipta hanyalah pembelajaran tak bermakna di setiap pertemuannya. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan guru sebelum melakukan pembelajaran tidak lain adalah pemberian motivasi-motivasi yang sifatnya merangkul para siswa.
Motivasi merupakan sebuah penciptaan kondisi psikolagis yang mampu mendorong seseorang melakukan sesuatu. Menurut para tokoh psikologi ada dua macam motivasi; pertama, motivasi intrinsik; motivasi yang timbul dari dalam diri, kedua, motivasi ekstrinsik; motivasi yang muncul dari orang lain berupa ajakan, suruhan dan paksaan. Jangan sampai tumbuh kembang siswa terhambat lantaran tugas dan kerja-kerja kita sebagai guru tidak berjalan maksimal. Sudah seharusnya sistem pemberian motivasi ini dapat segera dibudayakan. Agar tercipta keselarasan antara guru dengan siswa kearah kerjasama. Untuk sebuah usah yang dapat dilakukan guru dalam menumbuhkan sistem motivasi ternyata banyak ragamnya mulai dari; Penjelasan akan pentignya materi yang akan disampaikan, Pemberian Hadiah, Pujian, Hukuman dan Penciptaan iklim kompetisi belajar menjadi penekanan yang perlu di perhatiakan dan di jalankan oleh para guru. Oleh sebab itu, sebagai guru yang berkualitas perlu adanya dorongan kuat untuk selalu memberikan dan membudayakan sistim motivasi terhadap para siswa kapan dan dimanapun tempatnya.