Jumat, 27 Februari 2015

Menyambut Liberalisasi MEA 2015



In-trik
Kehidupanku tak ada reputasi jenaka
Tak ada yang berbeda di setiap masa
Dunia begitu hampa melihat kebijakan yang ada
Kapan revolusi penuh makna akan menyala

Semoga…
Waktuku tak habis dimakan usia
Tak tergrogoti larva-larva dinding kota
Yang bringas membabi-buta
syarat akan penguasa

Aku mulai sadar….
Ternyata,eksistensi manusia  mulai memudar
Tercampur kepentingan-kepentingan golongan
In- Trik kehidupan liberal

Sehingga,
sulit dibedakan…
Mana pejuang, mana pecundang,
mana kawan mana lawan.
Karena konsep kehidupan sudah dijungkir balikan
Oleh kontruksi kehidupan, hingga yang terjadi
Bukan memperkuat tetapi saling memperebuktan.

Indonesia  menyambut MEA 2015 (Kamis,25/12/2014).
Puisi Pernah di muat di Slilit Arena Edisi Februari 2015

Bekal untuk Presidenku



Bekal untuk Presidenku
Oleh Dedik Dwi Prihatmoko
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga

“Seorang pemimpin yang mampu membangun peradaban adalah mereka yamng mampu bergerak dan menggerakkan, hidup dan menghidupkan, berjuang dan memperjuangkan hak-hak Rakyatnya .”
(Dr.KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.)
P
emimpin adalah seorang panutan, apapun yang dilakukan dan dikehendaki memiliki pengaruh besar terhadap hajad hidup orang banyak sebagai bagian dari konsep eksistensialisme. Beberapa pekan ini berbagai media santer membicarakan tentang pemimpin bangsa yang kurang begitu peka terhadap pertikaian yang terjadi antar tikus dan buaya yang belum bermuara pada titik temu.
Suatu pertikaian tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena apabila tidak segera dituntaskan akan memunculkan permasalahan-permasalahan baru yang kian melebur menghambat bangsa untuk maju dan berkembang. Permasalahan lingkup bangsa tidak hanya satu, dua, atau tiga sehingga formulasi kebijakan yang cepat dan tepat sasaran sangat ditunggu masyarakat. Memang berat tugas seorang pemimpin mencari, menegahi dan membenahi problematisasi yang sedang terjadi. Apalagi berbicara aparatur negara, dimana presiden adalah kendali penegakan hukum yang lebih berkuasa.
Menunggu adalah sikap yang membosankan begitu juga  dengan sebuah permasalahan yang masih dalam fase “menunggu”. Fenomena menunggu akan menyebabkan kebingungan, ketegangan, kecemasan, dan konflik-konflik tumbuh subur di masyarakat. Hingga dampak besar yang terjadi adalah tumbuhnya ketidak percayaan rakyat kepada pemimpin bangsa dan negara.
Kompleksitas permasalahan dunia modern yang tidak kian berujung harus di sikapi dengan kritis.  Ki Hajar Dewantoro misalnya memgklaim “anak bangsa yang hidup di suatu negara wajib memiliki kesadaran kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang menimpa masyarakat di negerinya”. Kesadaran kritis tercipta sebagai jawaban dari sebuah permasalahan yang ada. Dalam perkembangannya, kesadaran manusia pembangun akan menyelaraskan antara kesadaran kritis, ideologis dan realistis. Ketika  kesadaran  tersebut dapat di munculkan maka bisa dipastikan masyarakat akan menjadi insan yang unggul dan bermartabat.
Dari permasalahan tersebut, resolusi untuk pemimpin bangsa perlu dibahas secara mendalam, salah satu cara yang dapat diambil yakni melalui forum-forum diskusi yang diperkuat dengan sebuah  solusi. Diskusi tanpa sebuah solusi menjadi rapor merah yang perlu dihindari. Beberapa forum diskusi yang ada banyak memberikan kritik pedas terhadap sebuah kasus yang sedang didera bangsa  namun dangkal dalam hal solusi yang memberikan dampak kecemasan  hingga berujung pada  ketidak percayaan masyarakat terhadap bangsanya sendiri.
Pemimpin Ideal
Menurut Amitai Etzioni, kepemimpinan adalah kekuatan yang didasarkan atas keunggulan karakter pribadi yang bertumpu pada sebuah visi dan misi pribadi. Suatu visi dan misi berkaitan dengan pandangan hidup. Sedangkan pandangan hidup tidak terlepas dari paradikma atau kepercayaan yang dianut. Maka seorang pemimpin bangsa harus memiliki komitmen yang kuat untuk terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam dirinya. Manakala  seseorang memiliki sebuah komitmen yang besar, maka bisa dipastikan kontribusinya pun akan semakin besar dalam mencapai sebuah tujuan dimasa kepemimpinan seorang pemimpin bangsa.
Membahas tentang pemimpin tentu banyak tawaran yang bisa diambil. Dalam islam kepemimpinan yang berfalsafah hidup profetis menjadi pilihan utama seorang pemimpin. Pemimpin Profetis berorientasi pada kepentingan bangsa yang mengarah kepada terciptannya bangsa yang berdaulat, memiliki kesadaran tinggi dan bisa menempatkan diri sebagai manusia biasa dengan mengedepankan tangungg jawab sosial-politik untuk rakyatnya. Selain itu, didalam pengambilan keputusan dan pelaksanaannya, pemimpin selalu memperhatikan norma-norma agama yang di yakininnya.-
Artikel pernah dimuat di LPM Arena, 30 Januari 2015.

Kenakalan Remaja VS Pendidikan Karakter





Kenakalan Remaja VS Pendidikan Karakter
Oleh Dedik Dwi Prihatmoko
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga

K
enakalan remaja dalam dunia pendidikan dewasa ini kian hari kian meningkat. Arus zaman yang semakin berkembang dengan tata nilai yang ada dengan mudah dapat diputar balikan oleh budaya massa. Memudarnya unguah-ungguh, sikap toleransi, tolong-menolong antar sesama, hubungan lain jenis yang tertata merupakan dampak dari konsumsi budaya massa yang tidak terkontrol. Sensitivitas permasalah ini begitu memprihatinkan ketika di benturkan dengan cita-cita bangsa dalam membentuk bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Tingkah laku menyimpang (deviasi) di kalangan masyarakat khsusnya dalam dunia pendidikan menjadi sebuah indikasi pendidikan yang diperoleh semasa sekolah baik di SD, SMP, SMA dan Perguruan tinggi kurang begitu optimal dan belum mampu membentuk moralitas (karakter) dalam diri peserta didik. Kerja-kerja institusi pendidikan lebih berorientasi pada nilai; nilai kecerdasan IQ, ulangan harian, UTS, UAS, UN tetapi belum merambah ke dalam aspek moralitas peserta didik itu sendiri.
Pembentukan moral yang diberikan pendidik melalui pembelajaran PPkn, Akhidah Akhak, Fikih dan Bahasa Indonesia sampai saat ini masih “mbulet” dalam tataran pemberian ilmu pengetahuan semata, belum mampu masuk kedalam lingkup pengamalan ilmu yang diberikan. Sehingga wajar ketika ditemukan beberapa pelajar melakukan tindakan abnormal (menyimpang) dari nilai-nilai masyarakat. Sebagai bagian dari pelarian peserta didik akan rutinitas yang terforsir dalam menciptakan kualitas akademik yang kurang humanis.
Menurut Thomas Lickano, seorang pakar karakter (1992), menyatakan sebuah bangsa akan menuju lubang kehancuran, jika generasi muda memiliki sepuluh tanda-tanda seperti;(1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, (2) membudayannya ketidakjujuran, (3) sikap fanatik terhadap kelompok, (4) rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (5) semakin kaburnya moral baik dan buruk, (6) penggunaan bahasa yang memburuk, (7) meningkatnya perilaku merusak diri seperti pengunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas, (8) rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan sebagai warga negara, (9) menurunnya etos kerja, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kurangnya kepedulian di antara sesama. Hal ini tentu menjadi warning up! bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang masih mencari jati diri.
Menyoal permasalahan remaja dalam dunia pendidikan yang tidak pernah sulut, revitalisasi pelaksanaan pendidikan perlu diciptakan. Adapaun beberapa strategi yang dapat diambil baik secara; prefentif, represif ataupun edukatif. Pendidikan tidak bisa difokuskan terhadap pencapaian kepandaian, kepintar ataupun kecerdasan keilmuan semata tetapi kualitas moralitas dan kreatifitas peserta didik juga harus dimunculkan. Kecerdasan tanpa diimbangi dengan pembentukan karakter di khaawatirkan akan membentuk generasi penerus bangsa “perusak” bagi bangsa itu sendiri. Menurut Ki Hajar Dewantoro, pendidikan tidak hanya cukup mencetak anak pandai, pintar, berpengetahuan, dan cerdas tetapi juga berorientasi pada pembentukan sikap (Afektif); berbudi luhur, berpribadi, dan bersusila. Sebagai bagian dari cipta, rasa, dan karya seorang manusia.
Langakah Preventif (pencegahan) menyikapi problematisasi kenakalan remaja menjadi hal terpenting di dalam pembentukan moralitas bangsa ke arah yang lebih baik. Maka pendidikan karaker merupakan sebuah pilihan realistis menyikapi maraknya kenakalan remaja yang kian memuncak. Penanaman karakter dapat dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sebagai penanaman nilai-nilai, baik-buruk, benar-salah dalam berperilaku di manapun mereka berada.
Berbicara mengenai teori dan realisasi ternyata pendidikan karakter memiliki korelasi positif terhadap keberhasilan akademik peserta didik. Dalam sebuah bulletin Character Education Partnership, oleh Dr, Marvin Berkowitz misalnya, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang siknifikan dalam pembentukkan motivasi peserta didik dalam meraih prestasi akademik oleh sekolah dengan menerapkan pendidikan karakter. Sekolah secara komperhensif melalui sistem pendidikan karakter menunjukkan penurunan drasitis dalam perilaku penyimpangan (negatif) yang dapat menghambat pencapaian akademik peserta didik.
Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dilaksanakan secara holistic-integral; artinya tanggung jawab dalam realisasi tidak dibebabkan pada pendidikan formal, tetapi pendidikan non formal dan in-formal jugan mengambil peran dan posisi dalam membentuk masyarakat Indonesia yang berkarakter, berbudi pekerti luhur dan tidak menyimpang dari syariat yang dibawa. Maka perlu adanya komitmen kerja sama antara pemerintah, masyarakat, keluarga dan sekolah dalam membentuk kualitas generasi muda yang lebih baik.-