Perjalanan ke Makasar Selawesi Selatan
Sore
sesaat setelah sampai bandara Hasanudin Makasar 07 April 2015.
Hari ini aku memutuskan pergi ke Makasar untuk
melakukan penelitian SKAI (Survey Kesehatan Ibu dan Anak) di pelosok desa di
daerah sana. Aku bersama tim peneliti dari lembaga Survey Meter melakukan cek
in di bandara Adisucipto sekitar pukul 15.00 WIB lantaran sekitar pukul 16.00
pesawat yang kami tumpangi akan segera lepas landas. Cuaca sore ini terlihat kurang
begitu bersahabat, curah hujan yang tidak stabil dan adanya keterlambatan keberangkatan
pesawat menjadikan perasaan ku sore ini campur aduk antara sengan dan
cemas. Di satu sisi sengan lantara
mendapatkan kesempatan untuk penelitian di daerah luar jawa dan belum pernah
aku alami sebelumnya disatu sisi aku merasa nyaliku terombang- ambing oleh
keadaan yang menimpaku saat ini. Namun karena aku sudah merasa yakin atas
kepurusan yang aku ambil dengan beberapa pertimbangan dari kelarga dan
rekan-rekan dan dosen pembimbingku selama ini aku mamantapkan diri untuk tetap
mengikuti penelitian ini.
Apapun yang terjadi aku akan tetap berjuang
dan berusaha yang terbaik untuk memberikan kado terindah bagi keluarga yaitu
dengan tidak mengecewakan mereka. Beberapa menit lagi pesawat yang aku tumpangi
akan segera take off sehingga kami pun
bergegas menuju kubin pesawat untukmelakukan perjalanan menuju bandara
Hasanudin Makasar. Menurut pemberitahuan dari pihak bandara perjalaan jogja ke
makasar akan ditempuh selama 2 jam. Setelah seluruh penumpang menempati tempat
duduknya pesawat mulai lepas landas. Rasa cemas dan gelisah mulai menghampiri ku,
jujur sebagai orang kampung yang baru pertama kalinya menggunakan fasilitas
transportasi udara aku sangat cemas dalam menjalani waktu-waktuku di kubin
pesawat. Namun setelah pesawat terlihat stabil aku mulai belajar menikmati perjalanan
itu. Dari atas terlihat bentangan alam ciptaan Allah dari sisi yang sama sekali
belum pernah aku lihat sebelumnya. Sehingga terbesit rasa takjub akan ciptaan
allah selama ini.
Beberapa mil dari permukaan laut aku mulai
menyadari ciptaan Sang Pencipta sangatlah mengagumkan untuk di nikmati.
Bentangan sungai, lahan perkotaan, pertanian, hutan, gunung dan lautan terlihat
jelas dari sisi yang berbeda. Sekitar satu jam perjalanan pramugari memberikan
intruksi bahwa cuaca sedang tidak bersahabat dan para penumpang disarankan
mengenakan sabuk pengaman. Intruksi ini cukup membuatku gelisah namun
kegelisahan tersebut ternyata mengantarkan ku untuk selalu mengingat-Mu dan ingin
selalu dekat dengan Mu. Jujur perasaan ku kala itu hanya terdapat satu rasa
yaitu PASRAH. Dalam benakku hanya terlintas bahwa kematianku hanyalah engkau
yang menentukan, dan sikaap ini sangat membuatku cukup nyaman dan mampu
menghilangkan perasaan ku yang awalnya cemas akan posisi saat ini.
Beberapa menit kemudian pilot mulai meninggikan
mas kapai, dan tahu apa yang terjadi? Saat itu aku hanya melihat awan putih
dengan satu cahaya cukup terang yaitu. Cahaya merah tadi sore mampu menyoroti
seluruh lapisan awan menjadikan awan terlihat menarik untuk disaksiakan. Dari
posisiku saat ini, aku melihat awan seakan memiliki kehidupan, awan bergerak
kesana kemari dengan berbagai bentuk dan jenis yang cukup berbeda menambah
keyakinan ku akan anugerah ciptaan Allah. Oleh sebab itu, waktu dua jam
perjalanan di udara menggunakan pesawat komersil menjadi sebuah pengalaman dan
cerita baru dalam hidupku. Trimakasih Allah Azza wa jalla karena engkau telah
mengantarkan ku mengapai mimpi-mimpiku.
Semagat kawan! Fighting! Ganbatte 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar