Catatan
penelitian hari I
Kec. Maros, Kab. Makasar Profinsi Sulawesi
Selatan 8 April 2015
Pukul 05.00 WITA.
Kumandang azan bergema cukup nyaring
terdengar di pelupuk telinga. Lantunan azan subuh di kota ini cukup mampu
untuk membangunkan umat muslim dari tidur malamnya. Sebagai orang baru di
daerah Maros, Makasar, Sulsel aku cukup tercengang menyaksikan masyarakat di
sini. Waktu sholat subuh, berduyun-duyun masyarakat datang ke masjid untuk
mulakukan sholat shubuh berjamaah. Tidak hanya bapak-bapak, tetapi para
ibuk pun juga tidak mau kalah dalam mencari pahala sholat berjamaah di daerah
ini. Sekilas memang tidak ada yang berbeda antara daerah sulalwesi selatan dengan
daerah lain. Namun ketika dilihat dengan mata telanjang tingkat religiusitas
masyarakat sangat terlihat dalam diri masyarakat disini.
Di tempat penginapan kami sementara di
dearah Maros, yang berlokasi di Perumnas Maros Indah menyimpan pesan bermakna
untuk disampaikan. Daerah di sini tidak terlalu padat akan jumlah penduduk, tetapi masyarakat disini ternyata masih
menjunjung tinggi sholat berjamaah di masjid, tidak terkecuali sholat subuh. Dari
jamaah yang datang tidak ada satupun jamaah yang telat (tertinggal gerakan
sholat)-nya. Sungguh luar biasa masyarakat di daerah ini. Sebagai jamaah sholat
yang berada dibaris belakang secara sadar ataupun tidak aku dapat menyaksikan
jamaah yang tertinggal ataupun tidak dalam gerakan sholatnya. Alangkah
kecewanya aku karena melihat jamaah yang cukup banyak dan hanya aku yang
tertinggal gerakan sholatnya. Sebuah pembelajaran yang tidak dapat aku lupakan
disini. Terimakasih masyarakat maros, pagi ini aku mendapat pelajaran yang
tidak ternilai bahwa sholat adalah hal utama dan diutamakan.
Selain itu, dari beberapa daerah yang
pernah aku kunjungi selama ini aku memberi point plus untuk masyarakat sulawesi
selatan, memang sekilas orang sulawesi selatan terlihat arogan dan keras namun
dibalik itu ternyata menyimpan luapan kelembutan dan kebaikan terhadap
sesamanya apalagi terhadap orang baru. Alasan mereka arogan dan kaku bukan
karena mereka angkuh namun lebih kepada sikap cangung dalam diri mereka terhadap
orang baru lantaran perbedaan bahasa, mereka cangung mau memulai percakapan
dari mana terhadap orang baru. Oleh karena itu, pandangan masyarakat selama ini
sangat keliru ketika berpandangan orang Sulawesi
Selatan adalah orang yang arogan dan kaku apalagi keras.
Semaggat Ganbatte ! 03..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar