Sabtu, 11 April 2015

Penelitian Hari 1 di Maros

Catatan penelitian hari I
Kec. Maros, Kab. Makasar Profinsi Sulawesi Selatan 8 April 2015
Pukul 05.00 WITA.
Kumandang azan bergema cukup nyaring terdengar  di pelupuk telinga. Lantunan azan subuh di kota ini cukup mampu untuk membangunkan umat muslim dari tidur malamnya. Sebagai orang baru di daerah Maros, Makasar, Sulsel aku cukup tercengang menyaksikan masyarakat di sini. Waktu sholat subuh, berduyun-duyun masyarakat datang ke masjid untuk mulakukan sholat shubuh berjamaah. Tidak hanya bapak-bapak, tetapi  para ibuk pun juga tidak mau kalah dalam mencari pahala sholat berjamaah di daerah ini. Sekilas memang tidak ada yang berbeda antara daerah sulalwesi selatan dengan daerah lain. Namun ketika dilihat dengan mata telanjang tingkat religiusitas masyarakat sangat terlihat dalam diri masyarakat disini.
Di tempat penginapan kami sementara di dearah Maros, yang berlokasi di Perumnas Maros Indah menyimpan pesan bermakna untuk disampaikan. Daerah di sini tidak terlalu padat akan jumlah  penduduk, tetapi masyarakat disini ternyata masih menjunjung tinggi sholat berjamaah di masjid, tidak terkecuali sholat subuh. Dari jamaah yang datang tidak ada satupun jamaah yang telat (tertinggal gerakan sholat)-nya. Sungguh luar biasa masyarakat di daerah ini. Sebagai jamaah sholat yang berada dibaris belakang secara sadar ataupun tidak aku dapat menyaksikan jamaah yang tertinggal ataupun tidak dalam gerakan sholatnya. Alangkah kecewanya aku karena melihat jamaah yang cukup banyak dan hanya aku yang tertinggal gerakan sholatnya. Sebuah pembelajaran yang tidak dapat aku lupakan disini. Terimakasih masyarakat maros, pagi ini aku mendapat pelajaran yang tidak ternilai bahwa sholat adalah hal utama dan diutamakan.
Selain itu, dari beberapa daerah yang pernah aku kunjungi selama ini aku memberi point plus untuk masyarakat sulawesi selatan, memang sekilas orang sulawesi selatan terlihat arogan dan keras namun dibalik itu ternyata menyimpan luapan kelembutan dan kebaikan terhadap sesamanya apalagi terhadap orang baru. Alasan mereka arogan dan kaku bukan karena mereka angkuh namun lebih kepada sikap cangung dalam diri mereka terhadap orang baru lantaran perbedaan bahasa, mereka cangung mau memulai percakapan dari mana terhadap orang baru. Oleh karena itu, pandangan masyarakat selama ini sangat keliru  ketika berpandangan orang Sulawesi Selatan adalah orang yang arogan dan kaku apalagi keras.
Semaggat Ganbatte ! 03..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar