SURAT UNTUK PARA RELAWAN
MUDA
Oleh: Dedik Dwi Prihatmoko*
(Pemerhati
Komunitas Jendela Jogja)
Mahasiswa
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga
Pertama, Kami merasa sangat senang dan
bahagia karena masih diberi kesempatan untuk menulis sepotong tulisan ini. Kepada
teman-teman relawan muda peduli pendidikan, bernamakan "Komunitas Jendela Jogja" yang saat
ini sedang merayakan Ulang tahunnya. Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman
relawan muda yang sudah lama mengabdikan diri menjadi relawan pengajar dan
telah banyak memberikan pelajaran bermakna dan inspiratif untuk diri kami dan umumnnya
pada generasi-generasi muda selanjutnya.
Kami datang ke kota Jogja sudah hampir
empat tahun terhitung dari diterimanya kami di salah satu perguruan tinggi
negeri di kota Jogja. Sehingga kami cukup tau akan kebudayaan masyarakat jogja.
Jogja adalah kota budaya, kota dengan tata kelola dan ungah-ungguh masyarakat
yang cukup tertata menjadikan para pendatang sedikit dimanjakan akan budaya.
Orang berbondong-bondong berkunjung ke Jogja
dengan berbagai tujuan, mulai dari wisata, mencari lapangan kerja,
berburu makanan, menghabiskan masa tua dan melanjutkan pendidikan.
Eksotisnya pantai dan budaya kraton
selalu menjadi pemandangan menarik untuk di kunjunggi di setiap waktunya.
Selain itu kota dengan pertumbuhan gedung-gedung pusat pendidikan yang begitu
pesat menambah nilai tambah, sehingga gairah masyarakat luar daerah untuk hijrah
ke kota ini cukup besar dan tidak heran ketika banyak wisatawan domestik datang
ke Jogja untuk melanjutkan program studinya.
Sebagai kota pelajar, Jogja menjadi
salah satu barometer pendidikan yang memiliki daya pikat tersendiri.
Perguruan tinggi negeri dan swasta mulai dari kampus berbasic pendidikan,
kesehatan, ekonomi, politik, sosial, pertanian, perkebunan, kehutanan, ilmu
teknologi dll tersebar luas di kota ini.
Oleh karena itu, tidak heran ketika kompetisi studi pendidikan di sebuah
kota dengan sebutan ”Kota Gudeg” ini cukup
tinggi dan menjadi incaran para pelajar di berbagai profinsi.
Berbagai latar belakang budaya, adat
istiadat, tradisi, agama, ras, warna kulit, dan ideologi tersaji di kota gudeg.
Pluralisme masyarakat pendatang inilah sebagai bentuk keterbukaan kota Jogja terhadap
kebudayaan luar. Masyarakat luar jawa seperti NTT, NTB, Papua, Kalimantan,
Sulawesi dll,. dengan mudah dapat melanjutkan studi pendidikan di kota ini dengan
catatan mereka benar-benar mampu dan mau berkompetisi secara sportif dalam percaturan
perguruan tinggi yang sudah dibuat. Semboyan ”Bineka Tunggal Ika” tetap
terpatri di masyarakat kota jogja. Biarpun berbeda-beda tetapi tetap satu jua
yakni Jogja Istimewa.
Dampak pluralisme yang terdapat di
Jogja cukup besar. Tergantung dari mana kita akan membidiknya. Ketika mencari
orang dari suku daerah luar jawa, bisa dibilang cukup mudah untuk mencarinya di
kota ini. Inilah salah satu bukti dari perbedaan yang membawa kemudahan dan
kemudahan inilah yang akan membawa kesatuan. Kesatan negara NKRI.
Di perguruan tinggi Jogja telah banyak
mencetak orang-orang hebat di pemerintahan sana. Kamipun berharap kelak bisa
menjadi bagian dari orang hebat seperti mereka. Namun setelah kami masuk ke
dalam komunitas relawan muda peduli pendidikan bernamakan “Komunitas Jendela” kami
melihat orang-orang hebat dari sudut pandang berbeda. Dengan latar belakang yang berbeda, baik dari sisi; perguruan tinggi,
jurusan, keunikan, motivasi dan ideologi mereka ada dengan misi yang sama yaitu
mencerdaskan generasi muda. Sungguh luar biasa perjuangan mereka. Mereka hadir mengajak
anak-anak untuk gemar membaca dikala orang lain sudah tidak lagi menyuarakan
dan mengambil tindakan terkait pentingnya pendidikan usia dini. Usia dimana
kecerdasan mereka sedang di pertaruhkan oleh perlakuan-perlakuan di sekelilingnya.
Sehingga pola kegiatan Komunitas Jendela Jogja sudah sepantasnya mendapatkan apresiasi
dari semua kalangan di negeri ini.
Kegiatan komunitas jendela cukup luar
biasa, dikala sebagian besar orang-orang memanfaatkan waktu liburannya untuk
berwisata. Jendelis Jogja tampil beda dan tidak biasa. Hari minggu merupakan
hari penting bagi teman-teman Jendela Jogja untuk mencerdaskan anak-anak desa
dengan membaca. Berkilo-kilo meter bascamp
(tempat binaan) yang harus Jendelis tempuh, Jalanan naik-turun dan tidak
putus-putus selalu mereka jalani dan nikmati. Bahkan ada beberapa moment pola kegiatan
Jendelis Jogja yang cukup menyentuh hati, kala itu ketika hujan abu melanda
wilayah jogja pada april 2014, dimana abu Gunung Merapi keluar cukup tebal dan
beberapa media masa menghimbau para warga Jogja untuk berhati-hati lantaran
aktivitas Gunung Merapi masih dalam tahap waspada. Ternyata hal itu tak
menyulutkan para Jendelis Jogja untuk melakukan rutinitas hari minggu untuk belajar
dan bermain dengan anak-anak di desa Turgo – Desa yang berlokasi di lereng kaki
Gunung Merapi -- Kesadaran para Jendelis akan pendidikan anak ternyata lebih
tinggi dibandingkan hujan abu yang datang pada hari itu. Ketika sebagian besar
orang memilih untuk menjauh dari Gunung Merapi namun berbeda dengan Jendelis
Jogja yang justru kala itu lebih memilih tetap melakukan kunjungan ke turgo
melihat keberadaan anak-anak di sana. Dan benar saja minggu itu yang datang ke
tempat pembinaan hanya ada beberapa anak. Ketika ditanya teman-teman yang lain
kemana? Mereka menjawab, mereka sudah mengungsi ke daerah lain. Jendelis pun bertanya
lagi kepada si anak, kenapa kalian tidak ikut teman-teman lain yang mengungsi ?
mereka menjawab, tidak apa-apa kami berani kok.
Disinilah peran Jendelis, kala
itu berusaha memberikan penyadaran kepada anak-anak untuk tanggap
bencana dengan melakukan usaha-usaha penyelamatan diri dari bahaya. Dengan
penyampaian yang dikemas dengan pola belajar sambil bermain mereka sedikit-demi
sedikit telah menyadari tentang pentingnya tanggap bencana. Subhanawllah jiwa merekaa
sunguh luar biasa, mereka tetap datang ke tempat pembinaan di tengah-tengah
bahaya yang bisa saja terjadi. Kami bangga pada kalian, kalian adalah orang-orang
hebat yang telah menginspirasi banyak orang termasuk diri KU secara pribadi
Semoga amalan kalian selama ini mendapatkan luapan asa yang
berlipat ganda dari sang pencipta….amin.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar