Jumat, 27 Februari 2015

Bekal untuk Presidenku



Bekal untuk Presidenku
Oleh Dedik Dwi Prihatmoko
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga

“Seorang pemimpin yang mampu membangun peradaban adalah mereka yamng mampu bergerak dan menggerakkan, hidup dan menghidupkan, berjuang dan memperjuangkan hak-hak Rakyatnya .”
(Dr.KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.)
P
emimpin adalah seorang panutan, apapun yang dilakukan dan dikehendaki memiliki pengaruh besar terhadap hajad hidup orang banyak sebagai bagian dari konsep eksistensialisme. Beberapa pekan ini berbagai media santer membicarakan tentang pemimpin bangsa yang kurang begitu peka terhadap pertikaian yang terjadi antar tikus dan buaya yang belum bermuara pada titik temu.
Suatu pertikaian tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena apabila tidak segera dituntaskan akan memunculkan permasalahan-permasalahan baru yang kian melebur menghambat bangsa untuk maju dan berkembang. Permasalahan lingkup bangsa tidak hanya satu, dua, atau tiga sehingga formulasi kebijakan yang cepat dan tepat sasaran sangat ditunggu masyarakat. Memang berat tugas seorang pemimpin mencari, menegahi dan membenahi problematisasi yang sedang terjadi. Apalagi berbicara aparatur negara, dimana presiden adalah kendali penegakan hukum yang lebih berkuasa.
Menunggu adalah sikap yang membosankan begitu juga  dengan sebuah permasalahan yang masih dalam fase “menunggu”. Fenomena menunggu akan menyebabkan kebingungan, ketegangan, kecemasan, dan konflik-konflik tumbuh subur di masyarakat. Hingga dampak besar yang terjadi adalah tumbuhnya ketidak percayaan rakyat kepada pemimpin bangsa dan negara.
Kompleksitas permasalahan dunia modern yang tidak kian berujung harus di sikapi dengan kritis.  Ki Hajar Dewantoro misalnya memgklaim “anak bangsa yang hidup di suatu negara wajib memiliki kesadaran kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang menimpa masyarakat di negerinya”. Kesadaran kritis tercipta sebagai jawaban dari sebuah permasalahan yang ada. Dalam perkembangannya, kesadaran manusia pembangun akan menyelaraskan antara kesadaran kritis, ideologis dan realistis. Ketika  kesadaran  tersebut dapat di munculkan maka bisa dipastikan masyarakat akan menjadi insan yang unggul dan bermartabat.
Dari permasalahan tersebut, resolusi untuk pemimpin bangsa perlu dibahas secara mendalam, salah satu cara yang dapat diambil yakni melalui forum-forum diskusi yang diperkuat dengan sebuah  solusi. Diskusi tanpa sebuah solusi menjadi rapor merah yang perlu dihindari. Beberapa forum diskusi yang ada banyak memberikan kritik pedas terhadap sebuah kasus yang sedang didera bangsa  namun dangkal dalam hal solusi yang memberikan dampak kecemasan  hingga berujung pada  ketidak percayaan masyarakat terhadap bangsanya sendiri.
Pemimpin Ideal
Menurut Amitai Etzioni, kepemimpinan adalah kekuatan yang didasarkan atas keunggulan karakter pribadi yang bertumpu pada sebuah visi dan misi pribadi. Suatu visi dan misi berkaitan dengan pandangan hidup. Sedangkan pandangan hidup tidak terlepas dari paradikma atau kepercayaan yang dianut. Maka seorang pemimpin bangsa harus memiliki komitmen yang kuat untuk terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam dirinya. Manakala  seseorang memiliki sebuah komitmen yang besar, maka bisa dipastikan kontribusinya pun akan semakin besar dalam mencapai sebuah tujuan dimasa kepemimpinan seorang pemimpin bangsa.
Membahas tentang pemimpin tentu banyak tawaran yang bisa diambil. Dalam islam kepemimpinan yang berfalsafah hidup profetis menjadi pilihan utama seorang pemimpin. Pemimpin Profetis berorientasi pada kepentingan bangsa yang mengarah kepada terciptannya bangsa yang berdaulat, memiliki kesadaran tinggi dan bisa menempatkan diri sebagai manusia biasa dengan mengedepankan tangungg jawab sosial-politik untuk rakyatnya. Selain itu, didalam pengambilan keputusan dan pelaksanaannya, pemimpin selalu memperhatikan norma-norma agama yang di yakininnya.-
Artikel pernah dimuat di LPM Arena, 30 Januari 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar