Bekal
untuk Presidenku
Oleh Dedik Dwi Prihatmoko
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga
“Seorang pemimpin yang mampu membangun
peradaban adalah mereka yamng mampu bergerak dan menggerakkan, hidup dan
menghidupkan, berjuang dan memperjuangkan hak-hak Rakyatnya .”
(Dr.KH. Abdullah
Syukri Zarkasyi, M.A.)
|
P
|
emimpin adalah seorang panutan, apapun yang dilakukan dan
dikehendaki memiliki pengaruh besar terhadap hajad hidup orang banyak sebagai bagian
dari konsep eksistensialisme. Beberapa pekan ini berbagai media santer
membicarakan tentang pemimpin bangsa yang kurang begitu peka terhadap
pertikaian yang terjadi antar tikus dan buaya yang belum bermuara pada titik
temu.
Suatu pertikaian tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena apabila
tidak segera dituntaskan akan memunculkan permasalahan-permasalahan baru yang
kian melebur menghambat bangsa untuk maju dan berkembang. Permasalahan lingkup bangsa
tidak hanya satu, dua, atau tiga sehingga formulasi kebijakan yang cepat dan
tepat sasaran sangat ditunggu masyarakat. Memang berat tugas seorang pemimpin mencari,
menegahi dan membenahi problematisasi yang sedang terjadi. Apalagi berbicara aparatur
negara, dimana presiden adalah kendali penegakan hukum yang lebih berkuasa.
Menunggu adalah sikap yang membosankan begitu juga dengan sebuah permasalahan yang masih dalam
fase “menunggu”. Fenomena menunggu akan menyebabkan kebingungan, ketegangan,
kecemasan, dan konflik-konflik tumbuh subur di masyarakat. Hingga dampak besar
yang terjadi adalah tumbuhnya ketidak percayaan rakyat kepada pemimpin bangsa
dan negara.
Kompleksitas permasalahan dunia modern yang tidak kian berujung
harus di sikapi dengan kritis. Ki Hajar
Dewantoro misalnya memgklaim “anak bangsa yang hidup di suatu negara wajib
memiliki kesadaran kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang menimpa
masyarakat di negerinya”. Kesadaran kritis tercipta sebagai jawaban dari sebuah
permasalahan yang ada. Dalam perkembangannya, kesadaran manusia pembangun akan menyelaraskan
antara kesadaran kritis, ideologis dan realistis. Ketika kesadaran
tersebut dapat di munculkan maka bisa dipastikan masyarakat akan menjadi
insan yang unggul dan bermartabat.
Dari permasalahan tersebut, resolusi untuk pemimpin bangsa perlu
dibahas secara mendalam, salah satu cara yang dapat diambil yakni melalui
forum-forum diskusi yang diperkuat dengan sebuah solusi. Diskusi tanpa sebuah solusi menjadi
rapor merah yang perlu dihindari. Beberapa forum diskusi yang ada banyak
memberikan kritik pedas terhadap sebuah kasus yang sedang didera bangsa namun dangkal dalam hal solusi yang memberikan
dampak kecemasan hingga berujung
pada ketidak percayaan masyarakat terhadap
bangsanya sendiri.
Pemimpin Ideal
Menurut Amitai Etzioni, kepemimpinan adalah kekuatan yang
didasarkan atas keunggulan karakter pribadi yang bertumpu pada sebuah visi dan
misi pribadi. Suatu visi dan misi berkaitan dengan pandangan hidup. Sedangkan
pandangan hidup tidak terlepas dari paradikma atau kepercayaan yang dianut.
Maka seorang pemimpin bangsa harus memiliki komitmen yang kuat untuk terus
mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam dirinya. Manakala seseorang memiliki sebuah komitmen yang
besar, maka bisa dipastikan kontribusinya pun akan semakin besar dalam mencapai
sebuah tujuan dimasa kepemimpinan seorang pemimpin bangsa.
Membahas tentang pemimpin tentu banyak tawaran yang bisa diambil.
Dalam islam kepemimpinan yang berfalsafah hidup profetis menjadi pilihan utama
seorang pemimpin. Pemimpin Profetis berorientasi pada kepentingan bangsa yang
mengarah kepada terciptannya bangsa yang berdaulat, memiliki kesadaran tinggi
dan bisa menempatkan diri sebagai manusia biasa dengan mengedepankan tangungg
jawab sosial-politik untuk rakyatnya. Selain itu, didalam pengambilan keputusan
dan pelaksanaannya, pemimpin selalu memperhatikan norma-norma agama yang di
yakininnya.-
Artikel pernah dimuat di LPM Arena, 30 Januari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar